Muhammad Fatih Budiman

Thursday, January 18, 2007

Arsip Lama : GOLPUT BUKAN SOLUSI, TAPI JEWERAN !!

33 tahun silam, 3 Juni 1971, di Gedung Balai Budaya Jakarta tampak penuh dengan pengunjung. Tepat sebulan sebelum pemilu 1971 saat itu. Selang beberapa menit kemudian ruangan hening ketika Arief Budiman yang didampingi aktivis mahasiswa dan pemuda lainnya dengan lantang memproklamirkan sebuah gerakan moral sebagai sebuah tindakan protes mereka terhadap sistem yang ada saat itu. Gerakan moral itu mereka namakan dengan “Golongan Putih (Golput)”. Meski setelah itu 34 eksponen Golput ditahan penguasa, tapi wacana ini sudah menjadi isu yang terus dan terus bergulir hingga sekarang. Dan, menjelang hajatan akbar pemilu 2004 pun, isu ini tetap panas untuk dibicarakan.

Kejadian puluhan tahun silam dipandang oleh banyak pengamat sebagai cikal bakal lahirnya gerakan golput yang intelektual. Hal ini didasarkan karena pada tahun 1955 pun Golput sudah muncul dalam ajang pemilu pertama negara ini saat itu, akan tetapi (konon) saat itu Golput lebih diartikan sebagai ketidaktahuan masyarakat tentang pemilu. Maka banyak diantara mereka yang tidak menggunakan hak politisnya saat itu. Dan, dari situlah angka Golput muncul. Golput intelektual bukanlah sebuah gerakan ecek-ecek seperti itu. Dan ini sebenarnya tidak bisa kita ukur, karena dalam sistem pemilu kita setiap suara yang tidak sah adalah Golput, termasuk yang ditusuk dengan puntung rokok sekalipun. Biasanya ciri gerakan ini adalah mereka sama sekali tidak mencoblos gambar partai manapun atau memang sama sekali tidak menggunakan hak pilihnya (tidak datang sama sekali ke TPS). Arief budiman Cs telah membangkitkan gerakan ini, dan usungan mereka adalah Golput yang didasarkan pada suatu analisa bahwa sistem yang ada hanyalah sistem untuk menopang kekuasaan yang ada, sistem yang sengaja dikloning oleh penguasa untuk melanggengkan tirani mereka. Bahkan pernah diusulkan agar Golput disertakan sebagai perserta pemilu dengan lambang putih.

Yang ingin Kami kemukakan disini adalah bukanlah ikrar diri kami sebagai Golput, akan tetapi menyadarkan bahwa jika Golput itu lahir, dia bukanlah sebuah dosa politik meskipun kita tahu bahwa sikap ini tidak bisa memberikan sebuah solusi konkrit. Yang harus kita pahami adalah bahwa sikap seperti ini adalah sebuah indikasi bahwa tidak semua masyarakat sepakat dengan sistem yang berkembang. Inilah sebuah jeweran politis terhadap sistem yang tidak bisa kita lepaskan dari protes politik yang tengah berkecamuk saat ini. Jika difikirkan secra cerdas, gerakan ini akan sangat memiliki keterkaitan terhadap proses legitimasi sistem dan penguasa yang ada. Dan jika kita cerdas juga menyikapinya, maka dari sinilah akan dicari irisan-irisannya sehingga muncul poin-poin solusi konkret. Selama golongan ini tidak disikapi secara cerdas, hanya dianggap kaum-kaum marginal politis, maka selamanya pula sistem yang berekembang tidak akan bersifat populis.

Tapi benarkah marginal ??? tergantung anda mendefiniskan marginal itu sendiri. Dari segi kuantitas, jika kita mencermati pergerakan jumlah golput pada setiap ajang pemilu, maka jumlah Golput yang muncul dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan. Persentase Golput pun terbilang fenomenal, karena untuk mencapai angka 5% saja dalam Pemilu bagi sebuah parpol sudah sangat berat. Sementara kita bisa lihat, angka Golput selalu berkisar pada angka di atas 6% dari total jumlah pemilih. Bahkan Golput katika pemilu 1999 meraih ‘suara’ lebih dari 10.40% pemilih. Hal ini berarti jauh di atas Electoral threshold (ET) yang cuma 2%, dan jauh di atas suara partai besar seperti PAN, PBB, dan PK (sekarang PK Sejahtera) saat itu. Artinya apa, jika Golput ini kita lembagakan maka menurut UU dia otomatis akan lolos dalam pemilu 2004 ini sebagai salah satu alternatif pilihan masyarakat. Sehingga, tidak benar juga jika kita menilai Golput hanyalah serpihan masyarakat ataupun indikasi kebodohan masyarakat, apalagi golongan marginal. Disinilah perlu sebuah kedewasaan politis untuk mengakui dan menyikapi secara arif keberadaan Golput ini sebagai otokritik terhadap sistem yang berkembang.

Ketakutan terhadap Golput hanyalah ketakutan tanpa dasar jelas. Yang lebih lucu jika ketakutan itu didasarkan pada kehawatiran minimnya suara parpol Islam karena umat Islam yang Golput. Logikanya, dengan proporsi umat Islam yang lebih dari 80% di negara ini, jika mereka semua Golput, maka jelas Pemilu tidak akan terlaksana. Dan jelas pula jika ini terjadi justru suara umat Islam akan lebih terangkat dengan pilihan jelas, Menolak Sistem yang Ada. Logika kedua, jika partai bebasis Islam saja enggan mereka pilih, apalagi partai yang berbasis non muslim tentu saja mereka akan lebih menjauh. Logika ini tentu saja sangat kasar, akan tetapi intinya ketakutan-ketakutan seperti itu tidak perlu kita khawatirkan. Jika ada yang berfikir seperti itu, ada dua hal yang mungkin terjadi, dia tidak percaya diri dengan program-programnya atau menganggap pemilu hanya sebuah pelampiasan emosi politis dimana cara berfikir pemilih tidak lagi digunakan saat itu.

Pemilu 2004 harus diakui akan dan telah banyak memberikan celah peningkatan suara Golput. Kekecewaan yang terus menerus dirasakan terhadap kiprah Parpol (berdasarkan jajak pendapat diberbagai media) setidaknya menjadi alasan tersendiri untuk lahirnya Golput di pemilu mendatang. Ditambah lagi, UU yang melahirkan pemilu 2004 dalah sebuah konstitusi yang sarat dengan kecacatan baik dari segi politik, hukum maupun HAM. Ada lebih dari 9 poin yang memiliki peluang besar untuk bisa dilakukan judicial review ke Mahkamah Konstitusi. Setidaknya, proses lahirnya pemilu 2004 pun sudah banyak menuai protes (dari segi konsitutsi) dan akan sangat memungkinkan jika gelombang protes ini tidak disikapii secara arif maka inilah riak-riak kecil yang akan melahirkan gelombang Golput besar saat pemilu nanti.

Marilah berpolitik ala orang dewasa, begitu kata Pro-Humasi IPB kewat spanduk-spanduknya. Dewasa dalam memahami bahwa hak politik bukan sekedar memilih dan dipilih, tetapi hak politik termasuk tidak memilih atau dipilih sekalipun. Artinya, Golput adalah sebuah sikap politis yang secara dewasa harus kita sikapi dan akui, bukan kita eliminir. Toh, jika dia memang lahir dari sebuah proses analisa mendalam, bukankah ini lebih membanggakan karena masyarakat sudah lebih cerdas berpolitik. Tapi tentu saja, lagi-lagi kita harus gariskan bahwa Golput yang disini adalah Golput intelektual. Sebuah sikap yang lebih mengedepankan analisa dan berfikir mendalam, bukan sekedar emosional, apalagi ketidaktahuan. Dan semoga, kita pun yang nanti menggunakan hal pilih kita didasarkan pada proses seperti itu, bukan sebuah sikap yang hanya didasarkan pada primordialisme.

Golput bukanlah solusi. Tentu akan semakin tidak memberikan solusi bagi mereka jika memilih salah satu Parpol yang notabene tidak mengakomodir pemikiran mereka. Parpol bisa jadi dianggap barang haram dimata mereka jika kondisinya seperti itu. Logikanya, jika didepan kita disajikan 24 makanan yang tidak bisa kita makan karena tidak sesuai dengan metabolisme dan selera kita, akankah kita memaksakan diri memakan salah satunya ? hal yang paling bijak adalah kita menolak makanan tersebut, dan seharusnya sang penyaji bijak juga menyikapinya dengan manyadari perlunya makanan alternatif untuk kita. Sebagai penutup, pikirkanlah pertanyaan ini, Salahkah jika masyarakat tidak memilih karena tidak ada satupun parpol yang mereka nilai aspiratif atau bagus ?? haruskan mereka melakukan kebodohan dengan dogma “Asal Pilih” ?? Dari sini kita akan tahu, kenapa Golput itu lahir.

Selamat ‘ber-Pemilu’ dengan cerdas….

Bogor, 17 Maret 2004

11 comments:

Royhana said...

Mohon ijin mengutip artikel ini ke blog saya.

Blog Watcher said...

PESAN DARI SURGA BUAT PARA KORUPTOR

Engkau menuliskan senandung nyanyianmu di atas wajah suci kaummu; lalu engkau membiusku dan perlahan-lahan merampas hartaku… seperti itulah yang dilakukan para koruptor…

Demikianlah, negara ku kini menduduki peringakat 3 negara terkorup se-Asia Tenggara, dan aku lemas, lunglai tak berdaya di tengah melimpahnya kekayaan kita. Kalbuku mengerang kesakitan, ku meraung kepedihan menahan luka gores sayatan yang menggores batin ini oleh perselingkuhan orang kepercayaan.

Dulu dalam fahamku, kau ku pilih karena kau orang yang tepat di posisimu, kau pengelola managemen dasyat dari segala kehebatan negeriku. Maka itu ku serahkan tanpa syarat semua kepadamu. Dengan maksud kita bersama-sama menyeberangi tepian bahagia menjadi bangsa bermartabat.

Tapi kini, rencana janjimu adalah angin lalu, semua ucapan manis mu kau buang di ngarai hampa. Ketahuilah semua kepalsuan yang kau ucapkan, aku tak percaya lagi!! Aku tidak ingin bersama mu di pemilu 2009 mendatang.

Semalam dua sebelum anggota KPK datang menjemput, aku mempersiapkan sepatah dua patah untuk kusampaikan kepadamu, namun engakau persiapan hanyalah persiapan, aku tak bisa melepas siratan hati karena penjagaan ketat garda polisi.

Sekarang di antara persidangan hati sekalian, aku katakan kepadamu ” aku akan boikot pemilu tgl 5 april 2009, kami akan golput!!!” agar kau merasakan seperti apa luka yang kau berikan.

sumber : http://www.asyiknyaduniakita.blogspot.com

Ilyas said...

berhati-hatilah dengan pengharaman apapun, termasuk terhadap GOLPUT. Ini menyangkut pertanggung jawaban terhadap Ummat di hadapan Ilahi. ada baiknya kita simak beberapa pendapat di http://www.singosari.co.cc

zonapikir said...

sebelum mengharamkan golput, tegaskan lagi pengharaman ide Sekulerisme, Pluralisme, dan Liberalisme (sipilia) yang telah difatwakan pada tahun 2005. Golput terjadi karena yg berubah cuma wajah pemimpinnya, namun sistem pemerintahan untuk melayani rakyat sama saja.

Free Ebook Download said...

Di pemilu ini saya akan GOLPUT. Jika ada yang berminat gabung silahkan ke http://www.facebook.com/group.php?gid=58983741244

michan said...

jika manganggap golput itu adalah sebuah pilihan lain, maka apakabar dana yang bermilyar untuk membiayai pemilu.
mungkin kalau pun banyak yang memilih golput, seharusnya mereka mendeklarasikannya terlebih dahulu. Dengan maksud agar tidak terjadi pemborosan yang subhanallah banyak sekali itu.
(michan, mahasiswi sok tau yg slalu ingin tau)

herianto said...

http://herianto.wordpress.com/2009/03/20/argumentasi-golput/

Anonymous said...

Saya hanya menanggapi soal kuantitas golput.
Anda mendefinisikan golput sebagai suatu "lembaga independen", dan membandingan perolehan suara terhadap SATU partai.
Yang seharusnya dibandingkan adalah, orang2 yang menggunakan hak pilihnya, dan yang tidak (golput).
Dengan angka 6-10% yang anda bilang, coba bandingkan dengan 90%-94% yang menggunakan hak pilihnya.

Anonymous said...

Golput itu ada tiga macam; pertama golput karena bingung melihat kontestan pemilu, kelompok ini sangat banyak jumlahnya, tetapi kelompok ini ketika diberi penjelasan akan kembali ke jalan yang benar. Kedua, adalah karena kecewa. Inilah adalah barisan sakit hati, jumlahnya sedikit, tetapi walaupun telah diberi tahu dan diterangkan, mereka tetap ngotot menolak pemilu. Ketiga adalah karena alasan ideologis. Inilah yang paling berbahaya. Dan golput idiologis ini terbagi dua, yang mengusung bendera Islam, dan yang mengusung paharn sekuler/liberal.

BERITA SEMARANG said...

Penyebab GOLPUT

1. Banyaknya partai, kini sejarah bisa jadi mengulang Indonesia tahun 1950/ 55 an
2. Seringnya masyarakat disibukkan memilih, baik KADES, BUPATI/WALIKOTA, GUBERNUR, CALEG, PRESIDEN, jika dirata-rata satu tahun ada pemilihan satu macam baik kades / bupati dst, maka setiap tahun masyarakat direpotkan pemilihan-pemilihan terus, apakah bigini ini demokrasi yang di agung-agungkan membuat orang repot?

Dan eman-eman uang para caleg, cakades, cabup dst dibuang-buang hanya untuk kemenangan semata, kenapa tidak dipakai untuk membantu rakyat miskin ? yayasan yatim?

Anonymous said...

mohon berhati2 bung terhadap pandangan anda terhadap golput. Golput itu tidak dapat dipaksakan, karena sadar atau tidak Golput itu adalah suatu aspirasi juga yang harus diperhitungkan. Meningkat ato menurunnya persentase Golput haruslah diperhatikan dan dipantau secara signifikan, karena itu merupakan indikator terhadap demokrasi dan terhadap ketidakpercayaan terhadap sistem yang ada. firmangasaism.blog.its.ac.id